Tampilkan postingan dengan label batuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label batuk. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

5 Dampak Negatif AC Terhadap Kesehatan Tubuh


Jakarta - Di iklim tropis seperti Indonesia, pendingin udara atau Air Conditioner (AC) dirasa penting bagi sebagian besar orang. Bahkan AC hampir digunakan setiap saat, baik di rumah dan di kantor.

Tetapi tahukan Anda bahwa ternyata AC punya dampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Seperti yang dikutip dari globaltvedmonton, berikut lima dampak negatif AC terhadap kesehatan tubuh.

1. Terkena Penyakit & Kelelahan Rutin
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang selalu bekerja dalam ruangan ber-AC memiliki kemungkinan untuk mengalami sakit kepala kronis dan rasa lelah yang terus menerus terjadi. Mereka yang bekerja di dalam gedung terus menerus terkena udara dingin sehingga mungkin alami iritasi membran mukosa dan kesulitan bernapas. Hal itu membuat Anda lebih rentan terhadap pilek, flu dan penyakit lainnya.

2. Kulit Kering
Berjam-jam menghabiskan waktu di lingkungan ber-AC dapat menyebabkan kulit Anda kehilangan kelembaban. Apalagi jika Anda tidak membantu kelembaban kulit dengan mengaplikasikan lotion. Beberapa kasus kulit kering yang parah bisa mengakibatkan eksim atau penyakit kulit lainnya.

3. Membuat Kondisi Penyakit Semakin Parah
Pendingin udara dengan sistem sentral diketahui dapat membuat penyakit yang sudah diderita menjadi lebih parah. AC membuat proses 'merasakan' sakit menjadi lebih sulit dan hal ini berbahaya bagi mereka yang mengalami sakit. Selain itu, AC juga dipercaya dapat meningkatkan gejala tekanan darah rendah, rematik dan neuritis.

4. Ketidakmampuan Tubuh Menghadapi Panas
Tubuh mereka yang menghabiskan banyak waktu di lingkungan ber-AC cenderung sulit mentolerir suhu musim panas. Biasanya ini diakibatkan stres tubuh karena berpindah dari lingkungan dingin ke area outdoor yang panas. Ketidakmampuan tubuh mentolerir suhu panas itu juga bisa meningkatkan kasus kematian akibat cuaca panas.

5. Masalah Pernapasan
Walau AC mobil dapat membuat Anda tetap merasa sejuk saat harus bermacet-macetan di siang hari, namun AC bisa mengedarkan kuman serta mikro-organisme yang menyebabkan masalah pernapasan. Para peneliti Louisiana State Medical Center menemukan delapan jenis kuman yang hidup pada 22 dari 25 mobil yang telah di uji coba. AC juga diketahui bisa dapat menyebarkan penyakit pernapasan seperti Legionnaire, yang bisa sebabkan batuk, demam hingga pneumonia (penyakit paru-paru).

(eya/eny)
Bersumber dari : Eya Ekasari - wolipop

Jumat, 23 November 2012

Waspadai 4 Gejala Berkembangnya Kanker pada Ginjal Anak


Jakarta, Penyakit kanker ginjal pada anak-anak memang jarang terjadi tetapi kemungkinan untuk mengembangkan kanker ini bisa saja terjadi pada anak Anda. Jika gejala kanker didiagnosis pada tahap awal, masih banyak kesempatan untuk disembuhkan sepenuhnya.

Kanker ginjal pada anak disebabkan karena pertumbuhan tumor Wilms atau nephroblastomas pada ginjal. Pada anak-anak, kanker ginjal hanya mempengaruhi salah satu ginjal saja.

Para ahli meyakini bahwa pembentukan tumor pada ginjal anak telah dimulai sejak di dalam rahim. Saat janin mulai berkembang di dalam rahim, tumor juga tumbuh secara bersamaan. Berkembangnya tumor tersebut mungkin disebabkan karena paparan radikal bebas selama kehamilan.

Seperti dikutip dari onlymyhealth, Jumat (23/11/2012), Anda perlu waspada jika anak mulai mengembangkan berbagai tanda-tanda dan gejala dari kanker ginjal berikut ini:

1. Pembengkakan dan rasa sakit pada perut
Pembengkakan dan nyeri perut adalah gejala yang paling umum dari kanker ginjal pada anak-anak yang disebabkan karena pembentukan tumor dalam ginjal anak. Umumnya, tumor tidak akan menimbulkan rasa sakit jika ukurannya masih kecil.

Hal ini menyebabkan sulitnya mendeteksi kanker ginjal pada tahap awal.Ketika tumor tumbuh dan mulai membesar, dapat menyebabkan rasa nyeri pada perut anak. Tanda yang paling mencolok adalah peningkatan ukuran popok anak.

Kadang-kadang juga dapat terjadi pendarahan dalam tumor dan menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan, sehingga anak mungkin akan terus-menerus menangis.

2. Darah dalam urin
Jika urin anak berwarna kemerahan atau merah muda, mungkin disebabkan karena adanya darah di dalamnya atau yang disebut dengan kondisi hematuria.

Adanya darah dalam urin merupakan salah satu tanda berkembangnya kanker dalam ginjal anak, di mana tumor telah menginfeksi sel-sel ginjal.

Darah tersebut menunjukkan infeksi pada proses ekskresi. Jika kondisi tersebut muncul, segera periksakan kondisi anak Anda ke dokter.

3. Gejala seperti flu
Anak-anak yang menderita kanker ginjal umumnya menunjukkan gejala mirip flu seperti muntah, demam, mual, dan menggigil. Anak-anak dengan tumor Wilms juga mengalami kehilangan nafsu makan dan menyebabkan penurunan berat badan secara drastis.

Jika kanker telah berkembang menginfeksi organ pernapasan seperti paru-paru, gejala seperti batuk dan sesak napas juga dapat terjadi. Karena gejalanya mirip flu biasa, orangtua biasanya hanya mengobati flu saja tanpa memeriksakannya lebih lanjut ke dokter.

4. Demam tanpa alasan yang jelas
Anak yang mengalami kanker ginjal biasanya akan mengalami demam berulang tanpa alasan yang jelas. Demam tersebut akan sembuh segera sembuh dengan sendirinya, kemudian anak akan berkeringat hebat dan kelelahan yang parah.

(vit/vit)
Bersumber dari : Linda Mayasari - detikHealth

Selasa, 13 November 2012

Waduh, Obat Demam Malah Bikin Bayi Rentan Asma


Jakarta, Jika anak mengalami demam, batuk dan pilek, orangtua seringkali langsung memberi si anak obat batuk dan pilek yang dijual bebas di pasaran yaitu paracetamol atau acetaminophen. Obat ini lebih banyak dipilih karena efek sampingnya yang kecil dan lebih ringan di perut.

Namun sebuah studi baru dari Denmark menemukan bahwa acetaminophen dapat menyebabkan bayi terserang asma. Secara khusus temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology ini mengungkapkan bayi yang diberi obat acetaminophen saat terkena demam dan batuk justru berisiko tinggi terkena gejala asma ketika menginjak usia prasekolah.

Bahkan semakin banyak dosis acetaminophen yang diberikan pada bayi maka risikonya terserang gejala asma di awal masa kanak-kanaknya juga akan meningkat.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mengamati penggunaan acetaminophen (yang lebih dikenal dengan merk dagang Tylenol) pada 336 anak terhadap risiko asma pada anak-anak. Keseluruhan partisipan dipantau oleh peneliti sejak lahir hingga berusia 7 tahun dan diketahui seluruh ibu partisipan menderita asma.

Hasilnya dilaporkan 19 persen partisipan menderita gejala asma ketika mencapai usia tiga tahun, termasuk mengi, sesak nafas dan batuk-batuk yang mudah kambuh jika diberi acetaminophen di tahun pertama kehidupannya. Bahkan untuk setiap dua kali lipat konsumsi obat bayi maka risiko asmanya melesat hingga 28 persen.

Tapi gejalanya mulai menghilang ketika partisipan mencapai usia 7 tahun. Ketika mencapai usia itu, hanya 14 persen partisipan yang menderita asma dan risikonya tak lebih tinggi ketika acetaminophen-nya diberikan saat masih bayi.

Peneliti menduga anak-anak penderita asma memang cenderung mengalami infeksi pernafasan yang lebih parah. Tak heran flu yang dialami anak penderita asma juga lebih sering berubah menjadi bronkitis atau pneumonia sehingga mereka jadi lebih banyak diberi acetaminophen untuk menurunkan demamnya daripada anak-anak lainnya.

Hal ini senada dengan studi lainnya yang menyatakan bahwa anak-anak yang sering diberi obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan naproxen juga berisiko tinggi terkena asma. Itulah mengapa anak-anak yang mengalami gejala asma lebih cenderung membutuhkan obat-obatan untuk meredakan kondisinya.

"Kendati begitu temuan ini saja tak cukup membuktikan bahwa acetaminophen menyebabkan gangguan pernafasan seperti asma ini. Terlalu dini jika kami menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat diantara keduanya," ungkap peneliti Hans Bisgaard, profesor kedokteran anak di University of Copenhagen.

Pasalnya beberapa partisipan dalam studi ini telah mengonsumsi sejumlah obat pereda nyeri sehingga peneliti kesulitan mengetahui obat manakah yang dikaitkan dengan gejala asma. Lagi pula studi ini hanya melibatkan anak-anak yang berisiko tinggi terkena asma akibat beberapa faktor lain.

Oleh karena itu Bisgaard menyarankan orang tua agar hanya menggunakan acetaminophen ketika benar-benar dibutuhkan saja seperti saat demam.

"Kami ingin menekankan bahwa obat ini memang bermanfaat tapi jika digunakan dengan cara yang tepat," pungkasnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (12/11/2012).


(nvt/nvt)
Bersumber dari : Rahma Lillahi Sativa - detikHealth