Tampilkan postingan dengan label kelelahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelelahan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

Awas, Virus ini Menyebar Lewat Ciuman


Jakarta, Berciuman merupakan salah satu 'ritual' yang sering dilakukan pasangan kekasih. Aktivitas yang menyenangkan ini tidak sepenuhnya bebas penyakit, apalagi yang melibatkan pertukaran air liur. Ada sebuah penyakit yang amat rentan ditularkan lewat berciuman.

Penyakit tersebut adalah penyakit Mono atau mononukleosis akibat infeksi virus Epstein Barr. Virus ini dapat menular melalui kontak dengan air liur orang yang terinfeksi. Sebuah penelitian menemukan bahwa berciuman dapat meningkatkan risiko terserang mono.

Selain lewat ciuman, virus Epstein Barr dapat menyebar melalui batuk, bersin atau berbagi makanan. Untungnya virus ini penularannya tidak seperti virus flu. Seperti dikutip dari MyhealthNewsDaily.com, Rabu (2/1/2013), kebanyakan penderita yang terkena virus ini sebelum dewasa akan mengembangkan kekebalan terhadap virus.

Para peneliti di University of Minnesota Medical School di Minneapolis memantau 546 orang mahasiswa. Sebelum penelitian dimulai, para peneliti menguji keberadaan antibodi virus Epstein-Barr dalam darah peserta. Sekitar 63 persen positif memiliki antibodi, artinya mereka pernah mengidap mono sebelumnya.

Selama penelitian, dokter mendiagnosis 66 orang mahasiswa yang mengidap mono. Dari jumlah tersebut, sebanyak 59 orang menampakkan gejala penyakit mono. Sayangnya peneliti belum dapat mengetahui seberapa sering para peserta menampakkan gejala.

Siswa yang mengidap mono jatuh sakit selama rata-rata 17 hari, namun masih dapat menularkan virus untuk jangka waktu sekitar 5 bulan. Tingkat infeksi virus lebih tinggi saat tahun pertama kuliah, yaitu 26 kasus per 100 orang. Pada mahasiswa yang sudah 3 tahun kuliah, tingkat infeksinya 10 kasus per 100 orang per tahun.

Laporan yang dimuat Journal of Infectious Diseases menegaskan bahwa orang yang berciuman lebih mungkin terserang mono dibandingkan yang tidak berciuman atau bahkan berhubungan seks. Faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko mono seperti pola makan, kebiasaan olahraga dan stres ternyata tidak terbukti mempengaruhi.

Kabar baiknya, penyakit ini tidak terlalu berbahaya. Gejala-gejala yang muncul akibat penyakit ini adalah sakit tenggorokan, kelelahan, sakit kepala, demam, nafsu makan berkurang dan pembengkakan amandel. Namun ada juga beberapa orang yang mengidap mono tanpa menunjukkan gejala.


(pah/vit)
Bersumber dari : Putro Agus Harnowo - detikHealth

Minggu, 11 Maret 2012

8 Cara Bantu Dokter untuk Membuat Diagnosa yang Tepat

Jakarta, Memang tidak selalu mudah untuk menemukan diagnosa yang tepat, terutama bila gejala yang dialami pasien tidak jelas atau terlalu umum. Gejala umum tersebut dapat seperti sakit kepala, demam, dan kelelahan. Sehingga hal tersebut dapat memungkinkan beberapa dokter salah mendiagnosa.

Diperkirakan tingkat kesalahan diagnosa berkisar antara 10-15 persen. Hasil penelitian baru tentang malpraktik medis yang dilakukan di Armed Forces Institute of Pathology, Silver Spring, MD ditemukan bahwa, lima kondisi yang paling sering salah didiagnosa adalah serangan jantung, kanker payudara, usus buntu, kanker paru-paru, dan kanker usus besar.

Berikut 8 cara yang dapat dilakukan untuk membantu dokter membuat diagnosa yang tepat seperti dikutip dari Epharmapedia, Selasa (10/1/2012) antara lain:

1. Mencatat setiap gejala

"Seringkali pasien tidak menyebutkan atau lupa menyampaikan beberapa gejala yang cukup penting untuk membantu dokter membuat diagnosa yang tepat. Sebelum mengunjungi dokter, sebaiknya mencatat gejala atau keluhan yang akan disampaikan pada dokter. Sehingga tidak ada gejala atau keluhan yang terlewatkan untuk disampaikan pada dokter," kata Charles Cutler, MD, seorang internis dari Norristown.

2. Mengenal riwayat medis keluarga

"Melacak ulang riwayat kesehatan keluarga, dapat membantu dokter menegakkan diagnosa yang tepat. Jika memang tidak tahu, maka mungkin dapat mencari tahu melalui kerabat keluarga yang lain. Kondisi seperti kanker, penyakit jantung, bahkan depresi dan kecemasan memiliki komponen genetik," kata Caroline Abruzese, MD, kepala dari Personalized Healthcare di Atlanta.

3. Membawa obat-obatan yang telah dikonsumsi

"Selama bertahun-tahun saya telah melihat beberapa hal yang tidak biasa dengan obat, termasuk pil yang salah dalam botol. Membawa obat-obatan yang telah dikonsumsi ketika mengunjungi dokter, juga dapat membantu dokter dalam menegakkan diagnosa. Selain itu, juga dapat membantu dokter menentukan resep obat yang tepat untuk pasien," kata Cutler.

4. Menceritakan gejala sejelas dan selengkap mungkin

Menceritakan gejala yang dialami sejelas dan selengkap mungkin pada dokter, tentunya dapat membantu dokter menegakkan diagnosa yang tepat. "Informasi yang akurat tetapi tidak lengkap lebih baik daripada definitif tetapi berpotensi salah," kata Abruzese.

5. Menceritakan gejala yang spesifik

Cobalah untuk memahami setepat mungkin tentang gejala yang dirasakan. Jika merasakan rasa sakit, maka pahamilah apakah rasa sakit tersebut tajam atau tumpul, datang dengan tiba-tiba atau konstan. Juga memahami kapan rasa sakit muncul, pemicu rasa sakit, serta berapa kali merasakan rasa sakit tersebut.

6. Tanyakan pada dokter mengenai gejala apa yang harus dilacak

Jika dokter masih kesulitan dalam menegakkan diagnosa, maka tanyakan apa yang harus dilakukan atau gejala apa yang harus dilacak untuk dapat membantu menegakkan diagnosa," ujar Gordon Schiff, MD, dai Center for Patient Safety Research and Practice at Brigham and Women's Hospital in Boston.

7. Jangan takut untuk mengajukan banyak pertanyaan pada dokter

Jangan takut untuk mengajukan banyak pertanyaan pada dokter mengenai apa yang ia butuhkan untuk dapat menegakkan diagnosa dengan akurat. Bertanyalah pada dokter mengenai pemeriksaan penunjang yang mungkin dapat dilakukan untuk dapat menegakkan diagnosa yang akurat.

8. Mengunjungi dokter lain untuk pendapat kedua

Apabila dokter yang pertama dikunjungi masih ragu-ragu dalam mendiagnosa, maka jangan ragu-ragu mengunjungi dokter lain untuk meminta pendapat kedua. Selain mengunjungi dokter lain, juga dapat mengunjungi dokter spesialis sesuai dengan keahliannya. Komunikasi yang baik antara dokter dan pasien akan sangat dapat membantu menegakkan diagnosa yang akurat oleh dokter.

(del/ir)

Bersumber dari : www.detik.com