Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

Senang Makan Manis Sejak Kecil Bisa Terhindar dari Diabetes, Benarkah?


Jakarta, Diabetes terjadi karena kadar gula dalam darah meningkat. Ada yang berpendapat bahwa penyebabnya adalah gula darah yang meningkat secara tiba-tiba saat dewasa. Lantas apakah dengan makan manis dari kecil bisa menghindari Anda dari si kencing manis alias diabetes?

"Itu salah, nggak ada benar-benarnya. Itu anggapan yang benar-benar salah," tegas dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD, PhD, dari Divisi Metabolik Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM kepada detikHealth, seperti ditulis Rabu (29/8/2012).

Menurut dokter yang menjadi ahli molekuler diabetes pertama di Indonesia ini, kebiasaan makan manis justru bisa membuat anak berisiko mengalami obesitas (kegemukan) sejak kecil.

Padahal, lanjut dr Dante, obesitas adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan orang terkena diabetes.

Hal tersebut juga diamini oleh Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH. Menurutnya, bila sejak kecil anak sudah terbiasa dengan makanan manis, maka insulinnya menjadi lebih sensitif terhadap glukosa. Bila terjadi terus-menerus, insulin menjadi tidak peka atau resisten, yang pada akhirnya menyebabkan diabetes.

"Kalau dari kecil sudah banyak makan makanan manis, justru insulinnya jadi lebih sensitif. Makanya kalau orangtuanya ada penyakit gula kita anjurkan anaknya jangan banyak makan makanan manis. Karena bisa juga karena faktor genetik," jelas Dr Ari, Ketua Bidang Advokasi Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) saat berbincang dengan detikHealth.

Tak cuma pada orang dewasa, anak-anak pun sudah bisa terkena diabetes. Biasanya diabetes menyerang anak yang doyan makan manis, makanan berkalori tinggi seperti junk food, ditambah dengan gaya hidup tak sehat dan jarang bergerak.

Bukan hanya diabetes tipe 1 yang terjadi karena kerusakan sel pankreas, anak-anak juga bisa menderita diabetes tipe 2, yaitu karena gaya hidupnya yang tidak sehat.

Data terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahkan menunjukkan bahwa penderita diabetes anak di Indonesia sudah meningkat hingga 500 persen dalam 3 tahun terakhir.

"Di tahun 2009 anak yang menderita diabetes tidak sampai 150 anak. Sekarang data terakhir sudah hampir 800 anak yang menderita diabetes. Tidak ada apa-apa saja tapi dalam 2 sampai 3 tahun tahun kenaikannya sudah 500 persen," jelas Dr. Aman Pulungan, Sp.A (K), Ketua UKK Endorinologi IDAI, dalam artikel detikHealth.

Dr Aman menjelaskan, dari 800 anak tersebut kebanyakan menderita diabetes tipe 1 (karena kerusakan sel pankreas), namun 60 diantaranya adalah penderita diabetes tipe 2 (diabetes karena gaya hidup tidak sehat) dan kesemuanya mengalami kegemukan.

Hal ini sangat memprihatinkan, karena jika anak-anak saja sudah menderita diabetes maka tentu kualitas hidupnya ke depan sudah sangat berkurang.

Belum lagi anak yang menderita diabetes memiliki peluang besar untuk mengalami penyakit komplikasi seperti hipertensi, penyakit jantung dan stroke lebih dini.

(mer/ir)
Bersumber dari : Merry Wahyuningsih - detikHealth

Kamis, 08 Desember 2011

Diet 2 Kali Seminggu Sudah Bisa Bikin Kurus

img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Menahan lapar sepanjang waktu tentu sangat menyiksa, sehingga banyak yang gagal dalam menjalani program dietnya. Namun dengan cara tertentu, diet sudah bisa menurunkan berat badan meski hanya dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu.

Diet tersebut dilakukan dengan cara memangkas asupan kalori sebanyak 1.500 kalori tiap hari, namun hanya perlu dilakukan 2 kali dalam seminggu. Dalam 4 bulan, berat badan berkurang rata-rata 4 kg sementara yang menjalankan diet setiap hari hanya turun 2 kg.

"Idenya adalah membatasi karbohidrat, namun tetap menyisakan kesempatan untuk mendapatkan rasa kenyang," ungkap Michelle Harvie, pakar diet dari Genesis Prevention Center di University Hospital seperti dikutip dari MSNBC, Jumat (9/12/2011).

Dalam penelitiannya, Harvie melibatkan 88 partisipan perempuan yang diminta menjalani beberapa program diet yang berbeda. Sebagian menjalani diet 2 kali dalam seminggu, sedangkan sisanya menjalani diet seperti biasa dengan pembatasan jumlah kalori yang disesuaikan.

Kelompok pertama menjalani diet Mediterania dengan menu yang didominasi ikan dan buah-buahan, serta pembatasan kalori sebanyak 1.500 kalori selama 2 hari. Kelompok yang menjalani diet biasa dibatasi kalorinya sebanyak 650 kalori setiap hari.

Harvie dan rekan-rekannya dalam penelitian ini meyakini, diet yang hanya dilakukan 2 kali seminggu akan lebih mudah dijalani. Meski sekali waktu akan terasa sangat menyiksa, namun masih ada sisa 5 hari untuk bersenang-senang sehingga tidak cepat bosan.

Diet yang tepat menurut Harvie sangat penting untuk mencegah kegemukan, dengan berbagai risiko komplikasi penyakit seperti diabetes yang menyertainya. Kegemukan sendiri juga merupakan faktor risiko penyakit lain yang mematikan, misalnya kanker dan serangan jantung.
(up/ir)

 Bersumber dari : AN Uyung Pramudiarja - detikHealth