Senin, 13 Oktober 2014

Bebek Bakar/Goreng Bumbu Melayu: Tidak Amis, Rendah Kolesterol



Menu bebek di dunia kuliner mungkin sudah bukan barang asing. Kuliner berbahan baku daging unggas yang senang hidup dekat air ini banyak ditampilkan dengan berbabagai variasi. Baik variasi dalam mengolah, memberi bumbu, maupun dalamn penampilan ketika disajikan. Dari semua hal itu, mungkin yang menjadi persoalan utama dalam olah-mengolah bebek adalah pada faktor bau amis, sedikit ”wengur” (apek-langu), dan kandungan lemaknya yang cukup banyak dibandingkan dengan daging ayam kampung. Faktor lemak dan bau amis/wengur bebek inilah yang sering menjadi kendala bagi para pengolah daging bebek.

Akan tetapi bagi Rumah Makan Bebek Bumbu Melayu hal ini tampaknya justru menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan mengandalkan 13 jenis rempah-rempah Rumah Makan Bumbu Melayu yang berpusat di Pekanbaru, Riau ini berani melangkahkan kaki membuka cabangnya di Jawa. Cabang-cabang Rumah Makan Bumbu Melayu di Jawa ini berada di Jl. Parangtritis Km 9, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Cabang lainnya berada di Jl. Wonogiri-Sengon, batas kota Wonogiri, Jl. Yosodipuran 84, Mangkubumen, Surakarta, dan Jl. Fatmawati 37, Pedurungan, Semarang.

Kecuali mengandalkan bumbu rempah sebanyak 13 jenis, Rumah Makan Bebek Bumbu Melayu ini juga menawarkan paket-paket yang cukup murah. Paket yang cukup populer di rumah makan ini adalah Paket Q Beek yang berisikan nasi putih, lalapan, sambel melayu, dan minuman jus beras kencur. Paket Q Beek ini dibanderol dengan harga Rp 15.000,-.



Oleh karena paketnya cukup murah Tembi pun mencoba paket Q Beek ditambah dengan dua menu: Tempe Penyet dan Terong Penyet dengan harga untuk keduanya adalah Rp 8.000,-. Oh iya, Tembi masih minta tambahan segelas Air Putih untuk menetralkan rasa di lidah.

Ketika Tembi mencoba menyuwir ’mencabik’ daging paha atas bebek yang disajikan memang terasa cukup empuk. Demikian pun ketika dikunyah. Tembi mencoba mengendus aroma daging bebek yang disajikan; ternyata memang tidak amis/wengur. Rahasianya karena daging bebek telah direndam dalam 13 jenis rempah dalam waktu hampir semalaman. Perendaman dan perebusan daging dengan rempah semacam itu mampu meluruhkan kandungan lemaknya yang memang memberikan aroma amis/wengur khas bebek. Sekaligus juga dengan perendaman semacam itu kadar kolesterol yang cukup tinggi di dalam daging bebek ikut terluruhkan.

Dengan demikian daging yang disantap Tembi kelihatan tampil lebih langsing atau ringkes. Mungkin bisa pula dikatakan lebih atletis atau seksi. Tampilannya sungguh berbeda dengan daging ayam potong yang lazim dibuat menjadi ayam goreng ”fried chicken”. Ketika Tembi menyoba mencicip rasa daging bebek ini ternyata memang empuk. Sekalipun demikian tidak ”moprol” ’gampang hancur’. Tekstur daging bebeknya masih cukup terasa. Agak sulit menemukan faktor rempah apa yang cukup dominan dalam rasa daging bebek bumbu Melayu ini. Tampaknya semua unsur rempah memang menyatu. Hanya mungkin, unsur rasa manis dan sedikit asin yang padu dalam takaran yang cukup pas memang masih tetap mendominasi. Mungkin hal itu disebabkan oleh bumbu kecap, gula, dan garamnya.

Faktor lain yang cukup menonjol dalam suguhan ini adalah sambal Melayu-nya yang khas pedasnya. Pedasnya cukup sengit. Bagi yang tidak tahan pedas sebaiknya tidak buru-buru mencocol atau mencolek sambalnya dalam jumlah banyak karena lidah dan perut bisa minta ampun.



Untuk Tempe Penyetnya memang terkesan bersahaja. Namun sambalnya tetap melecut lidah. Mungkin yang agak tidak biasa bagi orang Jawa adalah Terong Penyetnya yang digoreng relatif cukup kering sehingga pinggiran terong yang diiris melintang tipis terasa krispi.

Jus beras kencurnya mungkin juga terasa istimewa karena jus kencur ini menggunakan sirup dan perasan jeruk nipis. Jadi, rasa dan aroma beras kencurnya terasa beda dengan beras kencur tradisional bikinan para bakul jamu. Jus beras kencur di sini terasa lebih asam dan aroma kencurnya terasa agak tenggelam oleh aroma sirupnya. Untuk lebih mengenal aneka masakan khas Nusantara tidak ada jeleknya mencoba mencicipi Bebek Bumbu Melayu yang dikomandoi oleh Andi Wijaya sejak 1988 ini.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Jumat, 19 September 2014

Bakso Kobis Dan Es Campur



Di Yogya mudah sekali menemukan warung yang menyediakan kuliner bakso. Bahkan bakso keliling, yang menjumpai atau mencari pembeli dengan masuk kampung keluar kampung dilakukan oleh penjual bakso. Kebanyakan warung bakso buka siang hari, setidaknya mulai jam 10 pagi sampai sore. Karena malam hari, biasanya, atau kebanyakan warung bakmi yang gampang dijumpai.

Ada warung bakso yang sudah memiliki pelanggan,atau setidaknya dikenal, sehingga warungnya sudah puluhan tahun melayani pelanggan, bahkan telah ditersukan oleh anaknya. Dalam kata lain, warung bakso diteruskan generasi kedua, karena generasi pertama, yang merintis warung bakso sudah meninggal. Maka, anaknya yang menggantikan, seperti warung bakso, yang namanya ‘Warung Bakso Kobis Pak Tris” di Kridosono, Yogyakarta.



‘Warung Bakso Kobis” ini sudah lama membuka warungnya di Kridosono, sekitar 30 tahun yang lalu. Dikenal sebagai bakso kobis, karena baksonya menyertakan kobis, selain tentu saja bakmi dan daging.

“Sejak saya belum lahir warung bakso ini sudah ada, dan diteruskan oleh anaknya” kata seorang anak muda yang melayani ‘kuliner Tembi”

“Kamu lahir tahun berapa?” tanya ‘kuliner Tembi’

“Tahun 1985” jawabnya

Di kompleks Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta, ada sejumlah warung yang membuka dengan bermacam menu, seperti soto ayam kampung, soto sapi, lotek dan gado2, bakmi, es campur dan bakso kobis merupakan salah satu warung yang ada di kompleks ini. Masing-masing warung menggunakan satu kios yang terbuka, sehingga masing-masing warung saling terhubung. Orang bisa memesan bakso dan mengambil tempat duduk di warung soto, atau warung es, demikian pula sebaliknya. Duduk di warung bakso bisa memesan soto, lotek dan seterusnya. Pendek kata, warung di kompleks Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta saling mengisi satu dengan lainnya.

Berulangkali ‘kuliner Tembi’ mampir di warung ‘Bakso Kobis Pak Tris’ dan pesannya selalu sama, bakso kuah dilengkapi nasi putih dan minumnya es campur buah, tetapi tanpa es, sehinggga menjadi minuman buah.

Kamis siang (9/8) lalu, “kuliner Tembi’ kembali mampir di warung ‘Bakso Kobis Pak Tris’ setelah cukup lama tidak mampir. Pesannya tidak berubah, bakso kuah, nasi putih dan minuman buah. Tiga pilihan itu, bagi ‘kuliner Tembi’ menyegarkan dan membuat kenyang. Yang menyegarkan minuman buahnya dan yang membuat kenyang bakso kuah disertai nasi. Rasa baksonya memang membuat orang ‘kangen’ untuk kembali. Harganya cukup, Rp 10.000 satu porsi. Es buahnya Rp 5.000, mungkin karena tidak dengan es. Kalau es campur buah Rp 6.000.



Es buahnya cukup lengkap, ada nangka, blewah, nanas, kelapa muda, papaya, camcau, tape ketan. apokat dan cendol. Rasanya, kalau disertai dengan es lebih nikmat. Karena ‘kuliner Tembi’ tidak minum es, maka pilihannya tanpa es, dan rasanya pun tidak kalah segar dengan yang dicampuri es.

Baksonya, kalau pesan komplit ada bakso goreng dan bakmi. Baksonya bulat cukup besar dan dagingya terasa. Campuran bakso dan irisan daging dan kuah bakso yang panas, ditambah sedikiit sambal, menjadikan ‘Bakso Kobis Pak Tris’ nikmat rasanya.

Kalau kebetulan sedang di Yogya, dan melewati kawasan Kotabaru, luangkan waktu untuk mampir di warung “Bakso Kobis Pak Tris’.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya


Minggu, 31 Agustus 2014

Tayub Selalu Hadir di Dukuhan Selepas Akhir Musim Hujan

Suasana tayuban di Dukuhan, Sendangagung, Minggir Sleman
Ada hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam acara upacara kirab Ki Ageng Tunggul Wulung di Dukuhan, Sendangagung, Minggir, Sleman, Yogyakarta, yakni acara tayuban. Menurut Perno bin Sopermono, pemangku adat dan sesepuh dusun, tayuban disukai oleh Ki Ageng Tunggul Wulung di masa hidupnya. Ki Ageng Tunggul Wulung dianggap sebagai leluhur dan cikal bakal dusun tersebut. Karena itulah sosoknya sangat dihormati di wilayah tersebut.

Peringatan akan tokoh Ki Ageng Tunggul Wulung yang dilaksanakan dengan serangkaian acara itu dilakukan pada setiap habis masa panen rendhengan (akhir musim hujan) yang biasanya jatuh pada akhir bulan Juli-Agustus. Untuk tahun 2014 ini acara tersebut dilaksanakan pada hari Jumat, 22 Agustus selepas shalat Jumat. Acara itu dipandang sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus bentuk permohonan kepada-Nya agar di waktu selanjutnya masyarakat tetap beroleh berkat kasih Tuhan sehingga dapat hidup tenteram dan makmur.

Para penari tayub, pengibing, dan tokoh masyarakat Dukuhan
Tayub sendiri menurut beberapa ahli berasal dari kata ditata kareben guyub (ditata supaya rukun). Ada pula yang menyatakan berasal dari kata mataya dan guyub. Mataya berarti tari dan guyub berarti rukun. Namun antropolog Prof Dr Poerbotjaroko menyatakan bahwa tayub berasal dari kata sayub yang artinya adalah minuman keras atau dapat juga berarti makanan yang sudah basi. Oleh karena itu tayub merupakan tarian yang berkaitan erat dengan minuman keras. Hal ini diduga berkaitan erat pula dengan budaya Tantrisme di masa lalu.

Tayub juga dipandang sebagai bentuk taru kesuburan, tari yang menceritakan atau menyimbolkan tentang meng-ada, bertumbuh, berbuah, dan kembali ke sangkan paraning dumadi (kembali ke tempat asal mula), yang juga diharapkan terjadi pada tanaman dan ternak. Bahkan pada harmonisasi alam semesta, kesehatan, dan kemakmuran lahir batin.

Penari tayub: Tiovani dan Sipe
Kesuburan dan kemakmuran adalah hal yang saling terkait. Tidak ada kesuburan berarti tidak ada kemakmuran. Kemakmuran juga berkait erat dengan kesehatan dan kesejahteraan. Oleh karenanya hal demikian selalu diharapkan ada dan terus meng-ada untuk keberlangsungan kehidupan itu sendiri.

Namun, orang awam lebih melihat tayub sebagai bentuk tari pergaulan semata, tidak melihat esensi lambang atau simbol yang tersirat di dalamnya. Bahwa unsur minman keras yang selalu mengiringi Tayub bukanlah diarahkan pada kenikmatan fisik (pengecapan) semata. Namun bahwa kondisi trance oleh minuman dipercaya sebagai salah satu cara orang berkomunikasi (ekstase) dengan hal yang tidak tampak oleh mata telanjang. Sekalipun demikian, tayub juga tidak meninggalkan keindahan sisi-sisi tari (koreografi) dan iringan musik (gamelannya).

Rubiyanti penari tayub sakral yang tidak boleh diibing/disertai penari pria
Tayuban di Dukuhan dalam rangka memperingati Ki Ageng Tunggul Wulung ini melibatkan 3 orang penari yakni Sipe, Tiovani, dan Rubiyanti. Mereka menarikan Tayub dengan sentuhan kekinian mengingat mereka memperoleh ilmu tari di bangku sekolah, di samping juga secara turun-temurun. Sementara para tandhak atau pengibing tayub memiliki keterampilan menandak di masa lalu secara turun-temurun atau bahkan otodidak.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Sabtu, 02 Agustus 2014

Pelabuhan Sunda Kelapa Pernah Menjadi Poros Maritim

Salam tiga jari Persatuan Indonesia

Selepas ditetapkan oleh KPU menjadi Presiden RI terpilih untuk masa jabatan 2014-2019 pada hari Selasa tanggal 22 Juli 2014, Joko Widodo langsung bergegas menuju anjungan Pelabuhan Sunda Kelapa. Secara simbolis ia meletakkan dasar perjuangan mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Semangat gotong royong itulah yang akan membuat bangsa Indonesia bukan saja akan sanggup dalam menghadapi tantangan, tapi juga dapat berkembang menjadi poros maritim dunia, locus dari peradaban besar politik masa depan kita,” ucap Jokowi di atas kapal Pinisi “Hati Buana Setia” didampingi Jusuf Kalla.

Semangat gotong royong itu menjadi penting. Oleh karena menurut Jokowi kesukarelaan telah lama mati suri. Kini coba dihadirkan dalam semangat baru dalam kerangka politik baru sebagai peristiwa kebudayaan.

"Dan inilah saatnya bergerak bersama, mulai sekarang petani kembali ke sawah, nelayan kembali melaut, anak-anak kita kembali ke sekolah, pedagang kembali ke pasar, buruh dan pekerja kembali ke pabrik, dan karyawan kembali bekerja di kantor. Lupakanlah nomor 1 lupakanlah nomor 2, marilah kita kembali ke Indonesia yang satu, Indonesia Raya. Kita kuat karena bersatu, kita bersatu karena kita kuat. Salam tiga jari salam persatuan Indonesia,” imbuhnya.

Pemilihan lokasi Pelabuhan Sunda Kelapa tentu beralasan. Saat dalam perjalanan di atas speed boat Jokowi menegaskan bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan simbol dari upaya mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Memang pada masa lalu Pelabuhan Sunda Kelapa yang dikenal dengan sebutan Bandar Empat Zaman memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia: zaman Hindhu, Islam, kolonial, dan Indonesia merdeka.
Aktivitas jual beli hasil bumi terutama berupa rempah-rempah hilir mudik di muara pelabuhan yang pada zaman Tarumanegara abad V disebut Sundapura, yang artinya pintu masuk. Ya pintu masuk kerajaan Tarumanegara yang dulu pernah membuat sungai buatan Bhagasasi untuk mengairi sawah warga sekaligus sarana transportasi dari pedalaman menuju muara samudera.

Saat Sunda Pajajaran abad XIII dipegang Hyang Surawisesa keberadaan pelabuhan Calapa dikukuhkan dengan ditandatanginya perjanjian dagang antara Pajajaran dan Portugis. Dimaklumkan perjanjian itu dalam Prasasti Padrao bertanggal 15 Agustus 1522. Keberadaan pelabuhan tambah ramai dengan datangnya para pedagang dari Tiongkok, Jepang, India dan bahkan dari Timur Tengah.

Perjanjian itu rupanya membuat gusar penguasa Demak. Maka diutuslah pasukan bersama-sama dengan Cirebon untuk menguasai Sunda Kelapa. Setelah melalui berbagai serangan akhirnya Fatahillah berhasil menguasai Sunda Kelapa pada tahun 1526. Tercatat 3.000 rumah rusak. Syahbandar Wak Item beserta puluhan pegawai pelabuhan tewas.

Prasasti Padrao
Nama Sunda Kelapa kemudian diganti dengan Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1527. Fatahillah tercatat sebagai penguasa pertama. Saat itu Sunda Kelapa dibawah hegemoni Cirebon. Tahun 1568, panguasaan Jayakarta diserahkan kepada Tubagus Angke menantu Maulana Hasanudin Banten. Kemudian diserahkan pada Pangeran Jayakarta Wijayakrama. Tahun 1610 ia menandatangani perjanjian dengan VOC. Belanda diizinkan membangun gudang kayu di pinggir pelabuhan.

Rupanya VOC berminat besar terhadap Pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa kali serangan dilancarkan ke jantung pertahanan Jayakarta yang berada di selatan Pasar Ikan. Akhirnya pada tahun 1619 Jayakarta dapat ditaklukkan. Mulai tanggal 30 Mei 1619 nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Masuklah zaman kolonial. Perdagangan semakin maju dengan dibangunnya pelabuhan berikut mercusuar dan galangan kapal.

Zaman kolonial harus berakhir dengan masuknya Jepang di Indonesia. Pada tahun 1942 nama Batavia diubah menjadi Jakarta. Sesudah Indonesia Merdeka, Sunda Kelapa ditetapkan untuk menamai kawasan pelabuhan mulai tahun 1974. Kini kawasan itu dikelola PT Pelindo II. Namun fungsinya sebatas untuk bongkar barang muatan dari dan ke luar Pulau Jawa.

Pilihan Jokowi menggunakan Pelabuhan Sunda Kelapa untuk menyurakan tekadnya mengembalikan kejayaan maritim Indonesia, nampaknya memang didasarkan pada bukti sejarah kejayaan pelabuhan tersebut. Sesuai dengan cita-cita Jayakarta Wijayakrama saat berkuasa.

Hugo M Satyapara

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Selasa, 19 Februari 2013

Ingin Anak Terhindar dari Diabetes? Terapkan Pola Makan yang Benar


Jakarta - Menakar konsumsi gula pada anak sangat sulit dilakukan. Terlebih jika si kecil sudah menggemari makanan manis. Kelebihan asupan gula bisa berisiko terkena diabetes saat dewasa. Karena itu perlu dicegah dengan cara menerapkan pola makan yang sehat.

Seperti dilansir TimesofIndia (12/2/2013), Purwa Duggal seorang ahli gizi dari Fortis Hospital di India mengatakan bahwa diet sehat adalah metode dasar untuk mengendalikan diabetes. Namun harus tetap menerapkan beberapa konsep dasar seperti mengatur menu makanannya.

Duggalpun memberikan beberapa tips cara menerapkan pola makan yang benar, agar si kecil terhindar dari risiko diabetes. Misalnya selalu memberikan makan di jam makan juga camilannya. Suasana rumah yang menyenangkan juga dapat membantu si kecil makin semangat untuk melahap makanannya.

Tiap jenis bahan makanan yang diberikan harus mengandung sejumlah karbohidrat, protein, lemak dan serat. Jenisnya bisa berupa, sayuran, buah, biji-bijian dan kacang-kacangan. Agar si kecil tak bosan, bahan makanan bisa diolah menjadi berbagai hidangan yang menarik dan berbeda.

Sebagai penunjang tumbuh kembangnya si kecilpun harus diberikan susu. Sebaiknya jenis susu rendah lemak. Pola makan sehat tak hanya harus diterapkan di rumah, namun juga di luar rumah.

Misalnya saja si kecil sedang menikmati makanan manis saat menghadiri pesta ulang tahun temannya. Ada baiknya ajarkan cara memilih makanan yang sehat dan tidak terlalu banyak mengandung gula. Secara perlahan ia akan mengenali makanan sehat dengan baik.

Menerapkan diet sehat untuk mencegah diabetes bukan berarti si kecil tidak boleh makan gorengan. Namun sebaiknya jenis minyak yang digunakan adalah minyak nabati seperti minyak zaitun dan minyak kedelai. Sebaliknya, hindari pemberian makanan dengan lemak tinggi seperti keju, mentega dan minyak kelapa sawit.

(odi/dyh)
Bersumber dari : Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood

Senin, 28 Januari 2013

Wedding Planner, Tak Cuma Mengurusi Pernikahan


Wedding planner identik dengan pesta pernikahan? Ternyata tidak. Wedding planner juga bisa banyak membantu keperluan yang tidak berhubungan dengan resepsi pernikahan. Misalnya, perhelatan musik, pesta ulang tahun, pertemuan atau reuni, meeting akbar, hingga pesta-pesta tematik lainnya seperti pesta kebun.

Mella Nova, dari 7 Haven Wedding Organizer, mengatakan bahwa orang yang ingin mengadakan jahatan biasanya menggunakan jasa wedding planner atau wedding organizer. Dengan menyewa jasa wedding organizer (WO), si empu hajatan  tidak harus memusingkan hal-hal kecil yang seharusnya bisa ditangani oleh orang lain.

''Ada hal yang seharusnya lebih difokuskan sebelum hari H. Misalnya persiapan mental.  Kalau (hajatannya) itu meeting besar, pastinya konsentrasi pada persiapan bahan. Nah, tugas dari kami adalah membantu klien dalam mempersiapkan hal-hal yang menunjang acara,'' tutur Mella dalam perbincangan di pembukaan Wedding Expo 2010 di Jakarta Convention Center, Jumat (29/1/2010).

Pekerjaan yang dilakukan wedding planner saat mempersiapkan hajatan adalah:

1. Brainstorming
Melakukan brainstorming dengan si empunya hajatan. Anda harus memberi penjelasan mengenai tema pesta yang Anda inginkan, berapa jumlah tamu undangan, dan berapa lama acara akan berlangsung.

2. Item yang diinginkan dalam acara
Misalnya Anda ingin mengadakan pesta kebun. Apakah Anda membutuhkan MC dan live music, penyanyi dengan konsep full band atau organ tunggal, apakah perlu disiapkan panggung, podium, rangkaian bunga, dan lain sebagainya.

3. Budget
Mendiskusikan budget yang dimiliki klien. Misalnya Anda menginginkan pesta pernikahan sederhana dengan biaya Rp 30 juta. Maka tugas WO mencari vendor-vendor dengan tarif yang bisa "masuk" ke dalam budget yang ditentukan. Atau, bila vendor yang diminta termasuk cukup terkenal, adakah paket yang sesuai dengan harga yang Anda minta.

4. Tema
Pesta yang menggunakan tema sekarang bukan cuma pesta pernikahan, pesta ulang tahun, atau staff party yang diadakan di perusahaan-perusahaan. Acara syukuran kelahiran anak pun sekarang juga menggunakan tema, misalnya tema outdoor. WO perlu mengatur apakah ada prosesi atau upacara adat tertentu, apa menu makanannya, meja dan kursi, hingga hal-hal mendetail seperti menyiapkan permainan di area khusus untuk anak-anak.

5. Kelengkapan
Banyak pernik-pernik yang seolah remeh, tetapi ternyata sangat diperlukan. Misalnya kantong atau kotak plastik untuk membungkus sisa hidangan pesta (biasanya saat resepsi pernikahan), gunting, tali, selotip, lakban, amplop, dan lain sebagainya.

Bersumber dari : kompas.com

Rabu, 02 Januari 2013

Awas, Virus ini Menyebar Lewat Ciuman


Jakarta, Berciuman merupakan salah satu 'ritual' yang sering dilakukan pasangan kekasih. Aktivitas yang menyenangkan ini tidak sepenuhnya bebas penyakit, apalagi yang melibatkan pertukaran air liur. Ada sebuah penyakit yang amat rentan ditularkan lewat berciuman.

Penyakit tersebut adalah penyakit Mono atau mononukleosis akibat infeksi virus Epstein Barr. Virus ini dapat menular melalui kontak dengan air liur orang yang terinfeksi. Sebuah penelitian menemukan bahwa berciuman dapat meningkatkan risiko terserang mono.

Selain lewat ciuman, virus Epstein Barr dapat menyebar melalui batuk, bersin atau berbagi makanan. Untungnya virus ini penularannya tidak seperti virus flu. Seperti dikutip dari MyhealthNewsDaily.com, Rabu (2/1/2013), kebanyakan penderita yang terkena virus ini sebelum dewasa akan mengembangkan kekebalan terhadap virus.

Para peneliti di University of Minnesota Medical School di Minneapolis memantau 546 orang mahasiswa. Sebelum penelitian dimulai, para peneliti menguji keberadaan antibodi virus Epstein-Barr dalam darah peserta. Sekitar 63 persen positif memiliki antibodi, artinya mereka pernah mengidap mono sebelumnya.

Selama penelitian, dokter mendiagnosis 66 orang mahasiswa yang mengidap mono. Dari jumlah tersebut, sebanyak 59 orang menampakkan gejala penyakit mono. Sayangnya peneliti belum dapat mengetahui seberapa sering para peserta menampakkan gejala.

Siswa yang mengidap mono jatuh sakit selama rata-rata 17 hari, namun masih dapat menularkan virus untuk jangka waktu sekitar 5 bulan. Tingkat infeksi virus lebih tinggi saat tahun pertama kuliah, yaitu 26 kasus per 100 orang. Pada mahasiswa yang sudah 3 tahun kuliah, tingkat infeksinya 10 kasus per 100 orang per tahun.

Laporan yang dimuat Journal of Infectious Diseases menegaskan bahwa orang yang berciuman lebih mungkin terserang mono dibandingkan yang tidak berciuman atau bahkan berhubungan seks. Faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko mono seperti pola makan, kebiasaan olahraga dan stres ternyata tidak terbukti mempengaruhi.

Kabar baiknya, penyakit ini tidak terlalu berbahaya. Gejala-gejala yang muncul akibat penyakit ini adalah sakit tenggorokan, kelelahan, sakit kepala, demam, nafsu makan berkurang dan pembengkakan amandel. Namun ada juga beberapa orang yang mengidap mono tanpa menunjukkan gejala.


(pah/vit)
Bersumber dari : Putro Agus Harnowo - detikHealth